Kamis, 15 Mei 2014

harus ingat

Sejak kuliah, baru sekitar 6 tahun yang lalu, saya tidak hidup serumah dengan orang tua. Mungkin beberapa dari kalian juga seperti itu.

Sering iri dengan teman-teman yang sejak lahir hidupnya ditakdirkan selalu tinggal serumah dengan orang tua dan keluarga kecilnya. Tapi tidak ada yang sempurna toh di dunia ini. Kalau jauh sedikit, berpisah dari rumah barang sebentar sudah kangen rumah. Rindu mama-papa. Ah, manja!

Umur saya akan 23 tahun lima bulan lagi. Umur bapak dan ibu... hmm...ini yang saya mau ceritakan.

Umur ibu memang sudah di atas kepala 5. Saya bertemu ibu kira-kira 2 bulan sekali. Tidak tentu durasinya. Bisa sangat singkat, bisa sangat lama. Yang saya baru sadari akhir-akhir ini adalah kebiasaan ibu bercerita yang semakin sering dan banyak. Dalam sehari bisa beliau bercerita tentang hal yang sama sebanyak tiga kali. Awal-awalnya saya akan memotong "Ibu itu udah pernah ibu ceritain..." "oh iya,ya? hehe..."ibu senyum kemudian berhenti.

Lama-kelamaan...ah sudahlah, biarkan saja ibu bercerita hal yang sama. Rasa jengkel itu harus dipendam. Rasa sebal itu tidak setara dengan kekesalan ibu sejak melahirkan saya, toh. Saya harus ingat, membesarkan seorang Larasati sampai berumur 23 tahun bukan tanpa "rasa kesal". Saya harus ingat berapa adu mulut yang kami lewati, berapa bentakan yang diterima ibu di masa-masa "anak baru gede labil" saya, berapa air mata yang menetes dari mata ibu di setiap sholat malamnya untuk mendoakan saya. Saya harus banyak ingat dan BERSYUKUR. Ibu masih ada di dunia ini. Saya masih bisa mendengar suara hebohnya bercerita. Saya masih bisa mendengar jeritan panggilannya untuk membangunkan. Saya masih bisa mengoreksi lirik atau nada yang salah saat ibu menyanyi. 

Biarkan saja. Saya akan menjadi pendengar yang baik selama yang saya bisa. Saya harus ingat perjuangan ibu yang harus bangun setiap malam ketika saya masih bayi, kewaspadaan ibu mengawasi tangan dan kaki saya ketika belajar merangkak, keletihannya menetah saya ketika belajar berjalan. Tidak sanggup mengingat setiap bagian di mana saya harus bersyukur kepada Allah atas seorang ibu. 

Mungkin sebentar lagi akan tiba saat-saat ibu dan bapak selalu mengulang cetita yang sama. Bertanya satu hal yang sama berulang-ulang. Aku mohon, Tuhan, ingatkan aku untuk bersabar dan selalu ingat besarnya kesabaran mereka dalam membesarkan, mendidik dan....semuanya kepadaku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar